Sementara itu, Anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Tulungagung, Haryadi menyebut makam tersebut memiliki nisan bergaya Tembayat atau Bayat. Berdasarkan karakteristiknya, nisan semacam itu umumnya ditemukan pada periode peralihan Hindu-Buddha menuju awal Islam.
“Nisan menyerupai kelir atau gunungan, dengan bagian atas melebar. Bentuknya menyerupai gunungan dalam pewayangan atau kurawal makara kuno,” jelas Haryadi.
Nisan tersebut dipahat dari batu andesit dengan guratan kasar bekas pahatan manual. Bagian bawahnya diduga bertumpu pada umpak batu persegi berundak yang menyerupai gaya arsitektur masa pra-Islam.
Menurut Haryadi, bentuk nisan itu menunjukkan adanya akulturasi budaya antara seni ukir masa klasik Majapahit/Demak dengan tradisi makam Islam.
Editor : Mohammad Ali Ridlo
Artikel Terkait
